★★★ SELAMAT DATANG DI YAYASAN HANDARU SATWIKA JAGATHITA PERGURUAN KADEWAGURUAN KARESIAN NUSANTARA ★★★

Dengan menjalankan Sanātana Dharma, yang dalam tradisi penghayatan dibaca dan dimaknai sebagai Sanyata Dharma, Resi menapaki laku pelayanan yang nyata sebagai wujud kebaktian dan pengabdian yang sejati. Sanātana Dharma dipahami sebagai jalan hidup yang berkesinambungan, yang diwujudkan melalui derma, dharma, tapa brata, dan samadhi sebagai sarana pengolahan diri sekaligus pengabdian kepada kehidupan. Dalam laku tersebut, Resi hadir untuk menuntun siapa pun dan di mana pun, bagi masyarakat yang memerlukan arahan dan pendampingan dalam menempuh pengetahuan yang lebih mendalam. Tuntunan ini berpijak pada ajaran Tantra, Yantra, dan Mantra, yang dipahami sebagai warisan kebijaksanaan leluhur Nusantara dan diteruskan secara turun-temurun kepada para murid (sisya).

Melalui peran pengabdian ini, keberadaan Resi menjadi salah satu pilar penting dalam olah jiwa serta pembelajaran budaya ajaran moyang luhur Nusantara. Laku Sanātana Dharma tidak berhenti pada pemahaman konsep semata, melainkan diwujudkan dalam sikap hidup, keteladanan, dan pelayanan nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

KADEWAGURUAN KARESIAN NUSANTARA

Dalam tradisi penghayatan Nusantara, sebuah perguruan lahir dari laku dan tanggung jawab seseorang yang membuka jalan pembelajaran serta menjaga kesinambungan nilai kehidupan. Perguruan tidak semata berdiri sebagai organisasi, melainkan sebagai ruang pembentukan budi, rasa, dan kesadaran. Kadewaguruan Karesian Nusantara didirikan oleh Dang Hyang Sambhawa Sagara, yang berperan sebagai pengampu ajaran dan pengemban parampara Kadewaguruan Karesian Nusantara. Pendirian perguruan ini berangkat dari perjalanan laku penghayatan yang berpijak pada kesadaran penuh, kebijaksanaan hidup, serta tanggung jawab untuk merawat dan meneruskan nilai-nilai ajaran Nusantara.

Sebagai pengampu, Dang Hyang Sambhawa Sagara menanggung tanggung jawab pengajaran, pembimbingan laku, serta penataan arah pembelajaran perguruan. Sementara sebagai pengemban parampara, peran yang dijalankan adalah menjaga kesinambungan ajaran agar tetap hidup, tidak terputus, dan senantiasa relevan bagi perkembangan zaman.

KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

Dengan demikian, keberadaan Resi tidak hanya berperan dalam membimbing olah jiwa dan pendalaman kesadaran, tetapi juga menjadi salah satu pilar penting dalam proses pembelajaran serta pelestarian nilai budaya ajaran luhur Nusantara. Melalui laku pengajaran dan keteladanan yang dijalankan dalam perilaku Sanātana Dharma, masyarakat diarahkan untuk menumbuhkan keseimbangan hidup, ketenteraman jiwa, serta pengembangan kesadaran diri yang lebih matang, sejalan dengan nilai-nilai ajaran leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam tradisi Nusantara pada masa lampau, sebutan Dang Hyang digunakan untuk menyebut pribadi yang telah menempuh laku panjang dalam pengolahan jiwa, pengetahuan, dan pengabdian kepada kehidupan. Sebutan ini tidak lahir sebagai gelar yang dicari, melainkan tumbuh dari pengakuan masyarakat atas peran dan tanggung jawab yang dijalankan secara nyata dan berkesinambungan. Dang Hyang Sambhawa Sagara dipahami dalam kerangka tradisi tersebut sebagai pribadi yang mengemban peran pengampu ajaran, pembimbing laku, serta penjaga kesinambungan ajaran leluhur. Pada masa Nusantara kuno, peran Dang Hyang tidak terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan hadir menyatu sebagai penuntun kesadaran, penata tata hidup, dan penjaga keselarasan hubungan manusia dengan alam serta sesamanya.

Dalam tatanan lama, peran Dang Hyang mencakup beberapa fungsi utama, yaitu:

  1. Penuntun olah jiwa, yang membimbing masyarakat dalam mengembangkan kesadaran diri, pengendalian laku, dan kematangan sikap hidup.

  2. Pengampu ajaran, yang menjaga, menyampaikan, dan mengajarkan ajaran leluhur agar tetap hidup dan dapat dipahami lintas generasi.

  3. Pembina laku kebudayaan, yang menata tata krama, kebiasaan hidup, dan sikap bermasyarakat agar selaras dengan tatanan kehidupan bersama.

  4. Penjaga keseimbangan alam dan kehidupan, dengan menanamkan kesadaran akan keterhubungan antara manusia, alam, dan jagat raya.

  5. Pengemban parampara, yakni penjaga mata rantai kesinambungan ajaran, yang memastikan bahwa ajaran leluhur tidak terputus, tidak menyimpang dari laku asalnya, serta dapat diteruskan kepada murid dan generasi berikutnya sesuai dengan tuntutan zaman.

Sebagai pendiri dan pengampu Kadewaguruan Karesian Nusantara, Dang Hyang Sambhawa Sagara menjalankan peran-peran tersebut melalui pembelajaran, pendampingan, dan keteladanan hidup. Peran ini dijalankan sebagai tanggung jawab pengabdian untuk merawat kesinambungan ajaran, laku, dan tata kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur Nusantara.

Dengan menjalankan peran sebagai Dang Hyang dan pengemban parampara, pengabdian diarahkan untuk menumbuhkan kehidupan masyarakat yang seimbang, tenteram, dan saling menghormati. Jalan ini menjadi upaya merajut kembali hubungan antara jiwa manusia, budaya, dan alam kehidupan, agar tetap selaras dan berlanjut dari masa ke masa.

Dalam Kadewaguruan Karesian Nusantara, pengajaran dijalankan melalui tatanan aguron-guron, di mana pengetahuan dan nilai tidak hanya disampaikan melalui ujaran, tetapi juga melalui teladan, sikap hidup, dan pengolahan budi pekerti. Peran Resi dipahami sebagai fungsi pengabdian dalam mendampingi dan membimbing proses pembelajaran spiritual dan kebudayaan di dalam perguruan. Sistem pembelajaran mengenal lapisan warga, siswa atau cantrik, serta putra perguruan. Setiap lapisan memiliki tata krama, peran, dan cara penghormatan yang berkembang dari tradisi perguruan, sebagai bagian dari etika hubungan belajar-mengajar. Dengan pemahaman tersebut, Kadewaguruan Karesian Nusantara menempatkan ajaran, struktur, dan laku penghayatan dalam koridor Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan menjunjung kesadaran, tanggung jawab, dan keluhuran budi sebagai dasar pengabdian kepada kehidupan dan kebudayaan.

DANG HYANG SAMBHAWA SAGARA

DANG HYANG SAMBHAWA SAGARA

Silakan lengkapi kolom pendaftaran berikut apabila Panjenengan ingin bergabung sebagai Warga Kadewaguruan Karesian Nusantara.
Apabila hanya ingin berkonsultasi, silakan mencentang pilihan yang tersedia pada kolom di bawah ini.

INGIN BERGABUNG DAN BELAJAR

Kadewaguruan Karesian Nusantara berkomitmen untuk menghidupkan kembali ajaran-ajaran bausastra yang bersumber dari bahasa Kawi dan tradisi tulis Nusantara, yang berjalan seiring dengan tradisi tutur dan tradisi kabuyutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan leluhur. Ketiganya dipahami sebagai satu kesatuan dalam proses pewarisan pengetahuan dan pembentukan laku hidup.

Sebagai wujud komitmen tersebut, setiap tahun dibuka pawiyatan, yaitu jalur pendidikan dan pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, serta kematangan laku para peserta. Tahapan pembelajaran dimulai dari warga, berlanjut menjadi sisya, dan kemudian putra Kadewaguruan, sesuai dengan proses pembentukan diri yang bertahap dan berkesinambungan.

Melalui penguasaan bausastra Jawa Kuno, didukung oleh tradisi tutur yang hidup dan pemahaman terhadap nilai-nilai kabuyutan, para peserta diajak untuk kembali mengenali asal-usul diri, bahasa, serta budaya yang membentuk jati diri Nusantara. Pembelajaran tidak hanya bertumpu pada pengetahuan tertulis, tetapi juga pada pemaknaan, pengalaman laku, dan kesinambungan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Pawiyatan ini dituntun langsung oleh Dang Hyang Sambhawa Sagara sebagai pendiri sekaligus pengampu pembelajaran budaya dan sastra Jawa Kuno. Dalam proses pembelajaran, para peserta mempelajari Aksara Jawa Kuno, Aksara Sanskerta, serta berbagai aksara Nusantara lainnya, yang disertai dengan pengenalan laku budaya, tata tutur, serta pemahaman mengenai ruang-ruang kabuyutan sebagai pusat ingatan bersama dan kesinambungan ajaran leluhur.

Pawiyatan ini dituntun langsung oleh Dang Hyang Sambhawa Sagara sebagai pendiri sekaligus pengampu pembelajaran budaya dan sastra Jawa Kuno. Dalam proses pembelajaran, peserta mempelajari Aksara Jawa Kuno, Aksara Sanskerta, serta berbagai aksara Nusantara lainnya, disertai dengan pengenalan laku budaya, tata tutur, dan pemahaman ruang-ruang kabuyutan sebagai pusat ingatan dan kesinambungan ajaran leluhur.

DANG HYANG SAMBHAWA SAGARA

Yayasan HSJ PUSAT ©2025. Semua Hasil Karya dalam website ini dilindungi UNDANG-UNDANG HAK CIPTA

Follow kami pada sosial media berikut ini

BERDERMA PUNDI PEMBANGUNAN

SWIFT CODE : BJTMIDJA

NO. REKENING BANK BCA : 039-7-313-313

KONTAK KAMI

info@handarusatwikajagathita.or.id

NO. Telepon       : 0335 - 8788 569
NO. WhatsApp   : +62 877 4547 3626

SEKRETARIAT PUSAT

Jl. KH. Hasyim Ashari No. 29, Kel. Jati, Kec.

Mayangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur

Kode Pos 67217

SEKRETARIAT BUKA PUKUL

SENIN - JUMAT : 09:00 - 16:00

SABTU                : 09:00 - 16:00

MINGGU             : TUTUP

BERDONASI UNTUK SEGALA KEGIATAN DAN PEMBANGUNAN

YAYASAN HANDARU SATWIKA JAGATHITA

NO. REKENING  BANK JATIM : 190-224-5282

SWIFT CODE : CENAIDJA